Mengenai Saya

Foto saya
Aku hanyalah seoarang manusia yang bisa saja salah dalam setiap kata yang telah aku ucapkan, tulisan yang telah aku buat.jika terdapat kesalahan kata, tanda baca, nama, dsb harap dimaklumi, Sungguh, Allahlah yang maha sempurna dengan segala sesuatu, dan aku hanyalah manusia yang terkadang alfa atas setiap hal yang telah kulalui.

Rabu, 03 Oktober 2012

Qod Kafani (Cukup Bagiku Kepuasan dan Ketenangan...)


Qod Kafani (Cukup Bagiku Kepuasan dan Ketenangan...)

Al-Imam al Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad

قَدْ كَفَانِيْ عِلْمُ رَبِّي مِنْ سُؤَالِي وَاخْتِيَارِ
Sungguh telah cukup bagiku kepuasan dan ketenanganku bahwa Penciptaku Maha Mengetahui Segala Permintaanku dan Usahaku

فَدُ عَائِي وَابْتِهَالِي شَاهِدٌ لِي بِافْتِقَارِي
Maka do’a do’a dan jeritan hatiku sebagai saksiku atas kefakiranku (dihadapan kewibawaanMU)

فَلِهَذَا السِّرِّ أَدْعُو فِي يَسَارِي وَعَسَارِي
Maka demi rahasia kefakiranku (di hadapan KewibawaanMu) aku selalau mohon (padaMu) disaat kemudahan dan kesulitanku

أَنَا عَبْدٌ صَارَفَخْرِي ضِمْنَ فَقْرِي وَاضْطِرَارِي
Aku adalah hamba yang kebangganku adalah dalamnya kemiskinannku dan besarnya kebutuhanku (padaMu)

قَدْ كَفَانِي عِلْمُ رَبِّي مِنْسُؤَالِي وَاخْتِيَارِي
Sungguh telah cukup bagiku kepuasan dan ketenanganku bahwa penciptraku Maha Mengetahui segala permohonan dan usahaku

يَا إِلَهِي وَمَلِيكِي أَنْتَ تَعْلَم كَيْفَ حَالِي
Wahai Tuhanku Wahai yang memiliki diriku, Engkau Maha Mengetahui bagaimana keadaanku

وَبِمَا قَدْ حَلَّ قَلْبِي مِنْهُمُومٍ وَاشْتِغَالِي
Dan dari segala yang memenuhi hatiku dari kegundahan dan kesibukanku (hingga terlupakan dari mengingatMu)

فَتَدَارَكْنِي بِلُطْفٍ مِنْكَ يَا مَولَى الْمَوَالِي
Maka ulurkanlah bagiku Kasih Sayang dari Mu Wahai Raja dari segenap para Raja

ياَ كَرِيْمَ الْوَجْهِ غِثْنِي قَبْلَ أَنْ يَفْنَى اصْطِبَارِي
Wahai Yang Maha Pemurah Dzatnya, tolonglah aku, dengan pertolongan yang datang sebelum sirna kemampuanku dalam bersabar

قَدْ كَفَانِي عِلْمُ رَبِّي مِنْسُؤَالِي وَاخْتِيَارِي
Sungguh telah cukup bagiku kepuasan dan ketenanganku bahwa penciptaku mengetahui segala permohonan dan usahaku

Didikan Ibunda al-Habib 'Ali bin Muhammad al-Habsyi (Shohibul Maulid) Untuk Cinta Nabi SAW.


BY: Majelis Ta’lim Asy-Syifa

Didikan Ibunda al-Habib 'Ali bin Muhammad al-Habsyi (Shohibul Maulid) Untuk Cinta Nabi SAW. ( Oleh: al-Habib 'Ali Ridlo bin Luqman al-Kaff )

Di waktu umur Habibana 'Ali bin Muhammad al-Habsyi 7 tahun, ibunda beliau memanggil beliau dan berkata,
"Yaa 'Ali, engkau mau dapat ridlo ku tidak di dunia dan akhirat ..?" "Iya, ya ummii .." Jawab beliau .
"Kalau kamu mau dapat ridlo dariku, ada syaratnya ..!!" Kata ibunda Habib 'Ali. "Apa syaratnya, ummi ..??"
"Hmm .. Engkau harus bertemu dengan datukmu, Rosul Allah SAW. "Jawab ummi beliau.
Habib 'Ali al-Habsyi yang masih kecil bingung. Dia tidak mengetahui bagaimana cara untuk bertemu dengan kakeknya. Mulailah beliau mencari tahu dan belajar dengan guru-gurunya. Pergilah ia ke salah satu tempat majelis Ulama, kemudian dia berkisah tentang permasalahannya untuk mendapat ridlo ibunya dengan cara seperti tadi. Lalu gurunya berkata, "Yaa 'Ali, kalau engkau ingin bertemu dengan Rosul Allah SAW maka engkau harus mencintai Beliau SAW dahulu dan tak akan ada rasa cinta jika engkau tak kenal dengan yang di cinta."
Belajarlah beliau tentang sejarah beliau Nabi SAW. Tidak hanya itu, setiap orang alim yang ada selalu di tanya tentang masalah ini. Walhasil, banyaklah guru beliau. Ada yang berkisah kalau guru beliau mencapai ribuan orang.
Nah .. seiring waktu berjalan, bertambahlah umur beliau sampai mencapai usia kurang lebih 20 tahun, beliau akhirnya bermimpi bertemu kakeknya SAW. Begitu terbangun dari tidurnya, ia langsung memberitahu ibunya.
"Yaa ummii ... 'Ali sudah bertemu Beliau Rosul Allah SAW." Kata al-Habib' Ali sambil menangis haru. Tetapi, apa jawab ibunda beliau ..!!!??
"Yaa 'Ali, dimana engkau bertemu Beliau?"
"Di dalam mimpiku, Ummii." Kata al-Habib 'Ali.
"Yaa 'Ali, pergi kamu dari hadapanku. Engkau bukan anakku ... !!!!"
Menangislah ia ... Keinginan hati untuk menyenangkan sang ibu pupus sudah.
Dalam kegelisahannya, ia kembali bertanya kepada guru-gurunya, namun tak satupun dapat menjawabnya. Mengapa ibu beliau justru marah setelah mendapat laporan beliau tentang mimpinya.
Pada suatu malam ia kembali bermunajah untuk dapat bertemu kakeknya SAW. Larut dalam tangisan tengah malam, al-hasil tidurlah ia. Dan al-Hamdulillah beliau kembali beremu dengan kakeknya SAW.
"Yaa Jiddy (Kakek ku), Yaa Rosul Allah SAW .. Anakmu ini ingin menanyakan tentang perihal ummii. "Kata al-Habib 'Ali kepada Rosul Allah SAW.
"Duhai 'Ali anakku, sampaikan salamku kepada ibumu .." Jawab Rosul Allah SAW di dalam mimpinya al-Habib' Ali.
Begitu bangun, dia langsung mengetuk pintu kamar umminya sambil menangis tersedu-sedu.
"Duhai Ummii, anakmu telah bertemu lagi dengan beliau Rosul Allah SAW dan Beliau kirim salam kepada Ummii." Kata al-Habib 'Ali.
Tiba-tiba dari kamar, ibunda beliau keluar dan berkata,
"Yaa 'Ali, kapan dan dimana engkau bertemu datukmu SAW ..??" Tanya ibunda al-Habib' Ali
"Aku bertemu beliau di dalam mimpiku." Jawab al-Habib 'Ali dengan tangisan yang tak putus- putus.
"Pergi dari hadapanku ya 'Ali ...!!! Engkau bukan anakku ..!!" Jawabnya. Jawaban sang ibu benar-benar meruntuhkan hati al-Habib 'Ali. Kemudian pintu kamar ibunda al-Habib 'Ali al-Habsyi tertutup lagi, meninggalkan beliau seorang diri.
Esok harinya ia mengadu kembali ke guru-gurunya namun tak satupun dari mereka yang dapat menenangkan hati beliau. Semakin hari kegelisahannya semakin menjadi-jadi, setiap detik setiap saat ia terus-terusan mengadu dan bermunajah dan bertawajjuh kepada Allah dan Rosul Allah SAW. Tibalah suatu malam, ia hanyut jauh ke dalam lautan munajah dan mahabbah yang sangat sangat dahsyat kepada Nabi SAW. Kemudian beliau sujud yang sangat lama, tiba-tiba dalam kondisi sujud beliau mendengar suara yang lemah lembut,
"Yaa 'Ali, angkat kepalamu ..!!! Datukmu ada di mata zhohirmu. "Begitu al-Habib 'Ali al-Habsyi mengangkat kepalanya seraya membuka kedua pelupuk matanya perlahan-lahan, bergetarlah seluruh tubuh Habibana' Ali. Ia menangis dan berkata,
"Marhaba bikum Yaaa Jiddii, Yaa Rosul Allah .."
Ternyata sosok tersebut adalah Rosul Allah SAW berada di depan al-Habib 'Ali. Kemudian Rosul Allah SAW berkata, "Duhai anakku, sampaikan salamku kepada ummi mu dan katakan kepadanya kalau aku menunggunya di sini ..!!"
Seolah-olah gempa. Bergetar sekujur tubuh al-Habib 'Ali al-Habsyi, beliau merangkak ke kamar ibundanya.
"Yaa 'Ummi, aku telah bertemu kembali dengan Rosul Allah SAW dengan mata zhohirku dan Ia menunggu Ummi di kamar' Ali .."
Ibunda beliau membuka pintu kamarnya seraya berkata, "Ini baru anakku engkau telah mendapat ridlo dari ku."
Masya Allah .. Inilah didikan dari seorang ibu kepada anaknya untuk mencintai Rosul Allah SAW.
(Admin : Syechan Jufry)

Minggu, 11 September 2011

AMTSAL AL-QUR'AN

1. Amtsal secara etomologis jamak dari matsal yang berarti serupa atau sama. Pengaertian matsal secara etomologis ada tiga macam, yaitu : 1. Bisa berarti perumpamaan, gambaran atau perserupaan, 2. Bisa berarti cerita atau kisah, jika keadaannya dangat menakjubkan, 3. Bisa berarti sifat, keadaan atau tingkah laku.

2. Amtsal menurut Ibn Qayyim adalah menyerupakan sesuatu dengan sesuatu yang lain dalam hal hukumnya, dan mendekatkan sesuatu yang abstrak dengan yang indrawi, makhsus atau mendekatkan salah satu dari dua makhsus dengan yang lain dan menganggap salah satunya itu sebagai yang lain. Seperti contoh pada surat Yunus ayat 24 yang artinya “ Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti ait (hujan) yang kami tirunkan dari langit

3. Macam-macam amtsalul Qur’an :
a) Amtsalul Musyarrahah yaitu amtsal yang di dalamnya dijelaskan dengan lafadz matsal atau sesuatu yang menunjukkan tasybih.
 Amtsalul musyarrahah yang ada adatul tasybihnya atau kata yang konkrit yang menunjukkan perumpamaan seperti kata ( )
b) Amtsal Kaminah yaitu amtsal yang di dalamnya tidak disebutkan dengan jelas lafadz tamsil (perumpamaannya, tetapi ia menunjukkan makna-makna yang indah, menarik dalam redaksinya yang padat dan memopunyai pengaruh tersendiri bila dialihkan dengan yang serupa dengannya.
 Contoh amtsal kaminah :
1. Seorang ulam mentakan bahwa orang Arab tidak mengucapkan suatu perumpamaan, kecuali karena ada persamaannya dalam al-Qur’an seperti pada surat al-Baqarah ayat 68.
2. Jika ada ungkapan “kamu yang ditagih sebagaimana meminjam seperti surat ayat An-Nisa ayat 123.
3. Demikian halnya ungkapan “orang mukmin itu tidak boleh terperosok kedalam lubang yang sama sampai dua kali” seperti surat Yusuf ayat 64.
c). Amtsal mursalah adalah beberapa jumlah yang bebas tanpa lafdz tasybih, yakni beberapa ayat al-Qur’an yang berkalu sebagai perumpamaan.contoh Amtsal Mursalah al-Baqaraha ayat 216 yang artinya “ Dan boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu.”

3. Persamaan antara amtsal musyarrahah, amtsal kaminah dan amtsal mursalah adalah
sama-sama mengandung perumpamaan.

4. Perbedaan antara amtsal musyarrahah, kaminah dan mursalah :
 Amtsal musyarraha merupakan amtsal yang konkrit, atau amtsal yang jelas tanda tasybihnya.
 Amstal kaminah perumpamannya terkandung pada kata seperti pada kata ( )
 Amtsal mursalah perumpamaannya terkandung pada kalimat seperti pada kalimat


5. Amtsal memberikan kontribusi yang cikup besar dalam daya pikir bagi umat Isalm dalam mendalami pemahaman terhadap al-Qur’an, untuk mengetahui betapa besarnya urgensi amtsal al-Qur’an, maka perlu dilihat dari hal-hal berikut, yaitu :
a) Matsal menonjolkan sesuatu hal yag abstrak dalam bentuk kongkrit yang dapat dirasakan indra manusia, sehingga akal dapat menerima. Contoh firman Allah SWT tentang orang yang menafkahkan hartanya dengan riya, ia tidak akan mendapatkan pahala seikitpun dari perbuatannya terdapat pada surat al-Baqarah ayat 264.
b) Matsal al-Qur’an dapat meyingkapkan hakikat-hakikat dan mengkongkritkan sesuatu yang bastrak contoh seperti surat al-Baqarah ayat 275 yang mengumpamakan orang-orang pemakan riba yang dapat ditipu hawa bafsunya, diserupakan dengan orang yang sempoyongan kareba kemasukan setan.
c) Matsal al-Qur’an dapat menyimpulkan makna indah lagi menarik dalam ungkapan yang singkat dan padat sebagai dalam amtsal kaminah dan mursalah misal pada surat al-Mu’minun ayat 53.
d) Mendorong untuk giat beramal dan melakukan hal-hal yang dijadikan matsal dalam al-Qur’an seperti pada surat al-Baqarah ayat 261.
e) Menghindarkan dari perbuatan tercela yang dijadikan perumpamaan dalam al-Qur’an, setelah dipahami kejelekan perbuatan tersebut missal dalam firman Allah surat al-Hujurat ayat12.
f) Memuji orang yang diberi matsal seperti pada surat al-Fath ayat 29.
g) Menggambarkan dengan matsal itu sesuatu yang mempunyai sifat yang dipandang buruk oleh orang banyak missal pada surat al-‘Araf ayat 175-176.
h) Amtsal lebih berpengaruh kepada jiwa, lebih efektif dalam memberikan nasihat, lebih kuat dalam memberikan peringatan dan lebih dapat memuaskan hati missal pada surat az-Zumar ayat 27.


Semangat HIDUP

Semangat hidup dalam ruang yang redup

Jika jiwa ini hidup.... tiadalah semua terasa terang benderang dalam kalam-kalam suci Ilahi
tidak teronggok dalam hati yang sempit dibutakan nafsu dan amarah..


walau jiwa ini tak mati, jika gelap mengintai.. apalah daya yang diterima... semua seolah semu dalam angan-angan....

Bayang gelap memang mudah hadir di hati... tapi tak lantas membuat kita mati dak berdaya...
ada langkah terang untuk ke depannya yang tidak akan mudah hancur apapun yang terjadi...

Allah bersama hambaNYA selam sang Hamba menguingatNYA... tak pernah lupa dengan yang mengingatNYA... di mana pun dan kapan pun..

tak pernah lelah dan akan selalu menemami langkah sang hamba..... asal sang hamba selalu mengingatNYA.... Cahaya terang itu akan selalu ada.... :)



Jumat, 27 Mei 2011

KEKELIRUAN BERFIKIR

KEKELIRUAN BERFIKIR

I. PENDAHULUAN

Berpikir adalah aktivitas yang dilakukan oleh seluruh manusia. Suatu aktivitas yang berhubungan erat dengan kerja akal. Akal manusialah yang menjadi salah satu alat menyerap pengetahuan, menemukan dan membedakan mana yang benar atau keliru.

Namun, manusia yang memiliki pengetahuan terbatas ataupun belum memaksimalkan fungsi akalnya terkadang terjebak kepada kekeliruan atau kerancuan dalam berpikir. Hal ini wajar, karena akal bekerja berdasarkan hukum-hukum universal tertentu. Ketidaktaatan terhadap hukum-hukum universal dalam berpikir, menjadikan seseorang melakukan kekeliruan atau kesalahan. Dalam ungkapan yang lebih ekstrem, seseorang yang tidak menaati hukum berpikir dapatlah dikatakan sebagai seseorang yang tidak rasional (irrasional).

Orang kemudian mengenal hukum-hukum berpikir rasional yang universal itu dengan istilah Logika. Suatu istilah yang diperkenalkan oleh Aristoteles, filsuf Yunani kuno. Di dunia Arab (Islam), Logika kemudian populer dengan istilah Mantiq. Dan kekeliruan berpikir adalah salah satu bagian penting yang dibahas dalam studi tentang logika

Bagi setiap orang, apalagi kaum cendekiawan, menghindari melakukan kekeliruan dalam berpikir ini menjadi suatu keharusan. Sebab dari proses berpikirlah kehidupan, budaya, tradisi, bahkan sebuah peradaban dibangun. Bukankah peradaban yang berakar dan dibangun dari cara berpikir yang salah akan menyengsarakan manusia. Jalaludin Rahmat, cendekiawan muslim Indonesia itu bahkan menempatkan kekeliruan berpikir sebagai salah satu penghambat pertama dan utama proses rekayasa sosial dalam masyarakat.

II. PEMBAHASAN

Dalam logika dikenal istilah strategems atau fallacies; yakni kesalahan argumentasi karena kerancuan menggunakan bahasa atau kekeliruan berpikir. Bila logika mengajarkan kepada kita tehknik berpikir kritis, strategems adalah teknik berpikir tidak kritis.[1]

Banyak pengelompokan yang dilakukan oleh berbagai pemikir terhadap aspek-aspek yang termasuk ke dalam kekeliruan berpikir, baik secara umum maupun secara detail. Tapi dari berbagai pembagian aspek yang berhubungan dengan kekeliruan itu, pembagian oleh Mundiri (Logika, 1994), sepertinya merupakan salah satu pembagian yang cukup akurat dan sederhana. Mundiri membagi jenis-jenis kekeliruan itu ke dalam 3 kelompok besar ; kekeliruan formal yang berhubungan dengan bentuk dari premis-premis dalam silogisme, kekeliruan informal yang berhubungan dengan aspek materi dari suatu kesimpulan logis, dan kekeliruan penggunaan bahasa yang berhubungan dengan pelak-pelik ungkapan dan tata bahasa yang kemudian menyebabkan kesalahan penafsiran. Ketiga kelompok besar ini, memerlukan uraian tersendiri untuk dapat kita ketahui bagian-bagiannya.[2]

A. Kekeliruan Formal

1. Fallacy of Four Terms (Kekeliruan Karena Menggunakan Empat Term)

Kekeliruan berfikir karena menggunakan empat term dalam silogisme. Ini terjadi karena term penengah diartikan ganda, sedangkan dalam patokan diharuskan hanya tiga term, seperti :

Semua perbuatan mengganggu orang lain diancam dengan hukuman. Menjual barang di bawah harga tetangganya adalah mengganggu kepentingan orang lain. Jadi menjual harga di bawah tetangganya diancam dengan hukuman

Orang yang berpenyakit menular harus diasingkan.

Orang berpenyakit panu adalah membuat penularan penyakit, jadi harus diasingkan.

2. fallacy of Unditributed Middle (Kekeliruan Karena Kedua Term Penengah Tidak Mencakup)

Kekeliruan berfikir karena tidak satu pun dari kedua term penengah mencakup, seperti :

Orang yang terlalu banyak belajar kurus. Dia kurus sekali, karena itu tentulah ia banyak belajar. Semua anggota PBB adalah Negara merdeka. Negara itu tentu menjadi anggota PBB karena memang negara merdeka.

3. Fallacy of Illicit Process (Kekeliruan Karena Proses Tidak Benar)

Kekeliruan berfikir karena term premis tidak mencakup (undistributed) tetapo dalam konklusi mencakup, seperti :

Kura-kura adalah binatang melata. Ular bukan kura-kura, karena iitu ia bukan binatang melata.

Kuda adalah binatang, sapi bukan kuda jadi ia bukan binatang.

4. Fallacy of Two Negative Premises (Kekeliruan Karena Menyimpulkan daru Dua Premis yang Negatif)

Kekeliruan berfikir karena mengambil kesimpulan dari dua premis negative. Apabila terjadi demikian sebenarnya tidak bisa ditarik konklusi.

Tidak satu pun drama yang baik mudah dipertontonkan dan tidak sati pun drama Shakespeare mudah dipertontonkan, maka semua drama Shakespeare adalah baik.

Tidak satu pun barang yang baik itu murah dan semua barang di took itu adalah tidak murah, jadi kesemua barang di toko itu adalah baik.

5. Fallacy of Affirming the Consequent (Kekeliruan Karena Mengakui Akibat)

Kekeliruan berfikir dalam silogisme hipoteka karena membenarkan akibat kemudian membenarkan pula akibatnya, seperti :

Bila kita bisa berkendaraan secapat cahaya, maka kita bisa mendarat di bulan. Kit atelah dapat mendarat di bulan berarti kita telah dapat berkendaraan secepat cahaya.

Bila pecah perang harga barang-barang baik. Sekarang harga naik, jadi perang telah pecah.

6. Fallacy of Denying Antecedent (Kekeliruan Karena Menolak Sebab)

Kekeliruan berfikir dalah silogisme hipoteka karena mengingkari sebab kemudian disimpulkan bahwa akibat juga tidak terlaksana, seperti :

Bila permintaan bertambah harga naik. Nah, sekarang permintaan tidak bertambah, jadi harga naik.

Bila datang elang maka ayam berlarian, sekarang elang tidak datang, jadi ayam tidak berlarian.

7. Fallacy of Disjunction (Kekeliruan dalam Bentuk Disyungtif)

Kekeliruan berfikir terjadi dalam silogisme disyungtif karena mengingkari alternative pertama, kemudian membenarkan alternative lain. Padahal menurut patokan, pengingkaran alternative pertama, bisa juga tidak terlaksananya alternative yang lain, seperti :

Dia lari ke Jakarta atau ke Bandung. Ternyata tidak di Bandung, berarti dia ada di Jakarta. (Dia bisa tidak di Bandung maupun di Jakarta)

Dia menulis cerita atau pergi ke Surabaya. Dia tidak pergi ke Surabaya, jadi ia tentu menulis cerita.

8. Fallacy of Inconsistency (Kekeliruan Karena tidak Konsisten)

Kekeliruan berfikir karena tidak runtutnya pernyataan yang satu dengan pernyataan yang diakui sebelumnya, seperti :

Anggarang Dasar organisasi kita sudah sempurna ; kita perlu melengkapi beberapa fasal agar komplit.

Tuhan adalah Maha kuasa, karena itu Ia bisa menciptakan Tuhan lain yang lebih kuasa dari Dia.

B. KEKELIRUAN INFORMAL

1. Fallacy of Hasty Generalization (Kekeliruan Karena Membuat Generalisasi yang Terburu-buru)

Kekeliruan berfikir karena tergesa-gesa membuat generalisasi, yaitu mengambil kesimpulan umum dari kasus individual yang terlampau sedikit, sehinggga kesimpulan yang ditarik melampau batas lingkungannya, seperti :

Dia orang Islam mengapa membunun. Kalau begitu orang Islam memang jahat.

Panen di kabupaten itu gagal, kalau begitu tahun ini Indonesia harus mengimpor beras.

2. Fallacy of Forced Hypothesis (Kekeliruan Karena Memaksakan Praduga)

Kekeliruan berfikir karena menetapkan kebenaran suatu dugaan, seperti :

Seorang pegawai datang ke kantor dengan luka goresan di pipinya. Seseorang menyatakan bahwa istrinyalah yang melukainya dalam suatu percekcokan karena diketahuinya selama ini orang itu kurang harmonis hubungannya dengan istrinya, padahal sebenarnya karean goresan besi pagar

Dua orang tengah berbicara dnegan berbisik-bisik. Kemudian datang seseorang yang kebetulan mempunyai hugungan tidak baik dnegan salah satu di antara mereka. Orang yang datang ini kemudian berkata ; ‘Kau memang tidak suka padaku’. Kejelakanku kau siarkan ke mana-mana. (Padahal dua orang yang berbincang itu tengah merundingkan masalah lain)

3. Fallacy of Begging the Question (Kekeliruan Kerna Mengundang Permasalahan)

Kekeliruan berfikir karena mengambil konklusi dari premis yang sebenarnya harus dibuktikan dahulu kebenarannya, seperti :

Allah itu mesti ada karena ada bumi.

(di sini orang akan membuktikan bahwa Allah itu ada dengan dasar adanya bumi, tetapi tidak dibuktikan bahwa bumi adalah ciptaan Allah).

Surat kabar X merupaka sumber informasi yang reliable, karena beritanya tidak pernah basi. (Di sini orang hendak membuktikan bahwa surat kabar X memang merupakan sumber informasi yang dapat dipercaya berdasarkan pemberitaannya yang up to date, tanpa dibuktikan pemberitaannya memang dapat diuji kebenarannya).

4. Fallacy of Circular Argument (Kekeliruan Karena Menggunakan Argumen yang Berputar)

Kekeliruan berfikir karena menarik konklusi dari satu premis kemudian konklusi tersebut dijadikan premis sedangkan premis semula dijadikan konklusi pada argumen berikutnya, seperti ;

Sarjana-sarjana lulusan perguruan tinggi Omega kurang bermutu Karen organisasinya kurang baik. Mengapa organisasi perguruan tinggi itu kurang baik? Dijawab karean lulusan perguruan tinggi itu kurang bermutu.

Ekonomi Negara X tidak baik karena banyak pegawai yang korupsi. Mengapa banyak pegawai yang korupsi? Jawabnya karena ekonimi Negara kurang baik.

5. Fallacy of Argumentative Leap (Kekeliruan Karena Berganti Dasar)

Kekeliruan berfikir karena mengambil kesimpulan yang tidak diturunkan dari premisnya. Jadi mengambil kesimpuulan melompat dari dasar semula, seperti

Ia kelak menjadi mahaguru yang cerdas, sebab orang tuanya kaya.

Pantas ia cantik Karena pendidikannya tinggi.

Bentuk tulisannya bagus, jadi ia adalah anak yang pandai.

6. Fallacy of Appealing to Authority (Kekeliruan Karena Mendasarakan pada Otoritas)

Kekeliruan berfikir karena mendasarkan diri pada kewibawaan atau kehormatan seseorang tetapi dipergunakan untuk permasalahan di luar otoritas ahli tersebut, seperti:

Pisau cukur ini sangat baik, sebab Rudi Hartono selalu menggunakannya. (Rudi Hartono adalah seorang olah ragawan, ia tidak mempunyai otoritas untuk menilai bagusnya logam yang dipakai untuk membuat pisau cukur).

Bangunan ini sungguh kokoh, sebab dokter Haris mengatakan demikian. (Dokter Haris adalah ahli kesehatan, bukan insinyur bangunan).

7. Fallacy of Appealing to Force (Kekeliruan Karena Mendasarkan Diri pada Kekuasaan)

Kekeliruan berfikir karena berargumen dengan kekuasaan yang dimiliki, seperti menolak pendapat/argumen seseorang dengan menyatakan:

Kau maswih juga membantah pendapatku. Kau baru satu tahun duduk dibangku perguruan tinggi, aku sudah lima tahun.

Ketika ditanyakan kepada Stalin tentang kemungkinan perwakilan Paus dari Roma dalam konferensi-konferensi Internasional, ia menjawab: Berapa divisi tentara yang dimiliki Paus dari Roma itu untuk suatu perang terbuka? (Di sini Stalin hendak menolak usul itu dengan menunjukkan bahwa Paus tidak mempunyai kekuatan militer yang cukup).

8. Fallacy of Abusing (Kekeliruan Karena Menyerang Pribadi)

Kekeliruan berfikir karena menolak argumen yang dikemukakan seseorang dengan menyerang pribadinya, seperti:

Dia adalah seseorang yang brutal, jangan dengarkan pendapatnya.

Jangan dengarkan gagasan dia tentang konsep kemajuan desa ini. Waktu ia menjabat kepala desa di sini ia menyelewengkan uang Bandes (Bantuan Desa).

9. Fallacy of Ignorance (Kekeliruan Karena Kurang Tahu)

Kekeliruan berfikir karena menganggap bila lawan bicara tidak bisa membuktikan kesalahan argumentasinya, dengna sendirinya argumentasi yang dikemukakannya benar, seperti :

Sudah beberapa kali kau kemukakan alasanmu tetapi tidak terbukti gagasanku salah. Inilah buktinya bahwa pendapatku benar.

Kalau kau tidak bisa membuktikan bahwa hantu itu ada maka teranglah pendapatku benar, bahwa hantu itu tidak ada.

10. Fallacy of Complex Question (Kekeliruan Karena Pertanyaan yang Ruwet)

Kekeliruan berfikir karena mengajukan pertanyaan yang bersifat menjebak, seperti :

Jam berapa kau pulang semalam? ;(Yang ditanya sebenarnya tidak pergi. Penanya hendak memaksakan pengakuan bahwa yang ditanya semalam pergi).

Jadi, anda sekarang berhenti dari kebiasaan menganiaya istri anda? (Penanya hendak memaksakan pengakuan bahwa yang ditanya pernah menganiaya istrinya). Jika pertanyaan ini dijawab dengan “ya” berarti orang yang ditanya setidak-tidaknya pernah menganiaya istrinya. Bila dijawab “tidak” berarti yang ditanya terus melaksanakan kebiasaan jeleknya menganiaya istrinya; padahal orang yang ditanya barangkali memang belum pernah melakukan penganiayaan kepada istrinya.

11. Fallacy of Oversimplification (Kekeliruan Karena Alasan Terlalu Sederhana)

Kekeliruan berfikir karena berargumentasi dengan alasan yang tidak kuat atau tidak cukup bukti, seperti :

Kendaraan buatan Honda adalah terbaik, karena paling bnyak peminatnya.

Marilah kita jaga agar pikiran kita yang suci ini jangan sampai dikotori oleh jalan pikiran ahli teologi, karena permasalahn teologi adalah meyesatkan pikiran kita. Coba pikir dalam permasalahan kejahatan berarti Tuhan adalah jahat; sedangkan bika Tuhan tidak menghendaki kejahatan berarti Tuhan itu lemah, karena di dunia ini kejahatan selalu ada. Coba tuan-tuan milih alternatif mana. Inilah bukti ilmu teolog adalah menyesatkan. (di sini seseorang hendak mengajak orang lain agar menjauhi penyelidika di bidang teolog dengan mengajukan bukti yang belum cukup kuat bahwa teolog memang harus dihindari).

12. Fallacy of Accident (Kekeliruan Karena Menetapkan Sifat)

Kekeliruan berfikir karena menetapkan sifat bukan keharusan yang ada pada suatu benda bahwa sifat itu tetap ada selamanya, seperti :

Daging yang kita makan hari ini adalah dibeli kemarin. Daging yang dibeli kemarin adalag daging mentah. Jadi hari ini kita makan daging mentah.

13. Fallacy if Irrelevent Argument (Kekeliruan Karena Argumen yang TIdak Relevan)

Kekeliruan berfikir karena mengajukan argument yang tidak ada hubungannya dengan masalah yang menjadi pokok pembicaraan, seperti :

Pisau silet itu berbahaya daripada peluru, karena tangan kita seringkali teriris oleh pisau silet dan tidak pernah oleh peluru.

Kau tidak mau mengenakan baju yang aku belikan. Apakah engkai mau telanjang berangkat ke perjamuan itu?

14. Fallacy of False Analogy (Kekeliruan Karena Salah Mengambil Analogi)

Kekeliruan berfikir karena menganalogikan dua permasalahan yang kelihatannya mirip, tetapi sebenarnya berbeda secara mendasar, seperti :

Saya heran mengapa banyak orang takut menggunakan kapal terbang dalam bepergian karena banyak orang tewas kerana kecelakaan kapal terbang. Kalau begitu sebaiknya orang jangan tidur di tempat tidur, karena hampir semua orang menemui ajalnya di tempat tidur.

Seniman patung memerlukan bahan untuk menciptakan karya-karya seni, maka Tuhan pun memerlukan bahan dalam menciptakan alam semesta.

15.Fallacy of Appealing to Pity (Kekeliruan Karena Mengundang Belas Kasihan)

Kekeliruan berfikir karena menggunakan uarain yang sengaja menarik belas kasihan untuk mendapatkan konklusi yang diharapkan. Uraian itu sendiri tidak salah tetapi menggunakan uraian-uraian yang menarik belas kasihan agar kesimpulan menjadi lain. Padahal masalahnya berhubungan dengan fakta, bukan dengan perasan inilah letak kekeliruannya. Kekeliruan pikir ini sering digunakan dalam peradilan oleh pembela atau terdakwa, agar hakim memberikan keputusan yang sebaik-baiknya, seperti pmbelaan Clarence Darrow, seorang penasihat hukum terhadap Thomas I Kidd yang dituduh bersekongkol dalam beberapa perbuatan criminal dengan mengatakan sebagai berikut :

Saya sampaikan pada anda (para yuri), bukan untuk kepentingan Thomas Kidd tetapi menyangkut permasalahan yang panjang, ke belakang ke masa yang sudah lampau maupun ke depan masa yang akan datang, yang menyangkut seluruh manusia di bumi. Saya katakan pada anda bukan untuk Kidd, tetapi untuk mereka yang bangun pagi sebelum dunia menjadi terang dan pulang pada malam hari setelah langit diteraingi bintang-bintang, mengorbankan kehidupan dan kesenangnnya, bekerja berat demi terselenggarakannya kemakmuran dan kebesaran, saya sampaikan pada anda demi anak-anak yang sekarang hidup maupun yang akan lahir.

C. KEKELIRUAN KARENA PENGGUNAAN BAHASA

1. Fallacy of Compotition (Kekeliruan Karena Komposisi)

Kekeliruan berfikir karena menetapkan sifat yang ada pada bagian untuk menyifati keseluruhannya, seperti :

Setiap kapal perang telah siap, maka keseluruhan angkatan laut Negara itu sudah siap tempur.

Mur ini sangat ringan, karena itu mesinnya tentu sangat ringan.

2. Fallacy of Division (Kekeliruan dalam Pembagian

Kekeliruan berfikir karena menetapkan sifat yang ada pada keseluruhannya, maka demikian juga setiap bagiannya, seperti :

Kompleks ini dibangun di atas tanah yang luas, tentulah kamar-kamar tidurnya juga luas.

Di perguruan tinggi para mahasiswa belajar hukum, ekonomi, sejarah, sastra, filsafat, teknik, kedokteran, arsitektur, karena itu setiap mahasiswa tentulah mempelajari semua ilmu-ilmu tersebut.

3. Fallacy of Accent (Kekeliruan Karena Tekanan)

Kekeliruan berfikir karena kekeliruan memberikan tekanan dalam pengucapan, seperti :

Ibu, ayah pergi (yang hendak dimaksud adalah ibu dan ayah pembicara sedang pergi. Seharusnya tidak ada penekanan pada ibu, sebab maknanya menjadi pemberitahuan pada ibu bahwa ayah baru saja pergi).

Kita tidak boleh membicarakan kejelekan, kawan. (Yang dimaksud, kita dilarang membicarakan kejelekan kawankita. Tetapi dengan memberi tekanan pada kejelekan, maknanya menjadi lain).

4. Fallacy of Amphiboly (Kekeliruan Karena Amfiboli)

Kekeliruan berfikir karena menggunakan susunan kalimat yang dapat ditafsirkan berbeda-beda, seperti dalam contoh klasik berikut :

Croesus raja Lydia tengah memikirkan untuk berperang melawan kerajan Persia. Sebagai raja yang berhati-hati ia tidak akan melaksanakan peperangan manakala tidak ada jaminan untuk menang. Oleh karena itu ia meminta pertimbangan pendeta Oracle Delphi, untuk mendapatkan sabda dewa. Ia mendapat jawaban berikut : Bila Croesus berangkat melawan Cyrus ia akan menghancurkan sebuah kerajaan besar. Puas dengan ramalan ini ia menyimpulak ia akan menang melawan Cyrus, raja Persia. Ia berangkat ke medan laga dan dalam tempo singkat pasukannya dapat ditumpas oleh Cyrus, dan ia sendiri ditawan. Waktu menunggu dihukum bunuh ia menulis surat, mencela sangat keras para pendeta di Oracle Delphi. Para pendeta menjawab bahwa bagaimanapun juga mereka benar, karena Croesus dalam peperangan telah menghancurkan sebuah kerajaan besar, kerajaannya sendiri.

Seorang anak muda datang kepda seorang peramal apakah judi yang pertama kali ia ikuti nanti malam akan menang atau kalah, ia mendapat jawaban ; Anda akan mendapat pengalaman bagus. Atas jawaban ini ia sangat puas dan menyimpulkan ia akan menang dalam perjudian. Ternyata ia kalah. Waktu ia kembali ke tempat tukang ramal dan menanyakan kenapa ramalannya meleset, tukang ramal itu menjawab ; Saya benar, sebab dengan kekalahan itu anda mendapat pengalaman yang bagus, bahwa judi itu membawa penderitaan.

5. Fallacy of Equivocation (Kekeliruan Karena Menggunakan Kata dalam Beberapa Arti)

Kekeliruan berfikir karena menggunakan kata yang sama dengan arti lebih dari satu, seperti :

Gajah adalah binatang, jadi gajah kecil adalah binatang yang kecil. (Kecil dalam ‘gajah kecil’ berbeda pengertiannya dengan kecil dalam ‘binatang kecil’).

Menunggu satu ¼ jam adalah lama, maka menggarap soal ujian ¼ jam adalah lama.[3]

III KESIMPULAN

Ø strategems atau fallacies; yakni kesalahan argumentasi karena kerancuan menggunakan bahasa atau kekeliruan berpikir.

Ø Mundiri membagi jenis-jenis kekeliruan itu ke dalam 3 kelompok besar ; kekeliruan formal yang berhubungan dengan bentuk dari premis-premis dalam silogisme, kekeliruan informal yang berhubungan dengan aspek materi dari suatu kesimpulan logis, dan kekeliruan penggunaan bahasa yang berhubungan dengan pelak-pelik ungkapan dan tata bahasa yang kemudian menyebabkan kesalahan penafsiran.

Ø A. Kekeliruan Formal

1. Fallacy of Four Terms (Kekeliruan Karena Menggunakan Empat Term)

2. fallacy of Unditributed Middle (Kekeliruan Karena Kedua Term Penengah Tidak Mencakup)

3. Fallacy of Illicit Process (Kekeliruan Karena Proses Tidak Benar)

4. Fallacy of Two Negative Premises (Kekeliruan Karena Menyimpulkan daru Dua Premis yang Negatif)

5. Fallacy of Affirming the Consequent (Kekeliruan Karena Mengakui Akibat)

6. Fallacy of Denying Antecedent (Kekeliruan Karena Menolak Sebab)

7. Fallacy of Disjunction (Kekeliruan dalam Bentuk Disyungtif)

8. Fallacy of Inconsistency (Kekeliruan Karena tidak Konsisten)

Ø B. Kekeliruan informal

1. Fallacy of Hasty Generalization (Kekeliruan Karena Membuat Generalisasi yang Terburu-buru)

2. Fallacy of Forced Hypothesis (Kekeliruan Karena Memaksakan Praduga)

3. Fallacy of Begging the Question (Kekeliruan Kerna Mengundang Permasalahan)

4. Fallacy of Circular Argument (Kekeliruan Karena Menggunakan Argumen yang Berputar

5. Fallacy of Argumentative Leap (Kekeliruan Karena Berganti Dasar)

6. Fallacy of Appealing to Authority (Kekeliruan Karena Mendasarakan pada Otoritas)

7. Fallacy of Appealing to Force (Kekeliruan Karena Mendasarkan Diri pada Kekuasaan)

8. Fallacy of Abusing (Kekeliruan Karena Menyerang Pribadi)

9. Fallacy of Ignorance (Kekeliruan Karena Kurang Tahu)

10. Fallacy of Complex Question (Kekeliruan Karena Pertanyaan yang Ruwet)

11. Fallacy of Oversimplification (Kekeliruan Karena Alasan Terlalu Sederhana)

12. Fallacy of Accident (Kekeliruan Karena Menetapkan Sifat)

13. Fallacy if Irrelevent Argument (Kekeliruan Karena Argumen yang TIdak Relevan)

14. Fallacy of False Analogy (Kekeliruan Karena Salah Mengambil Analogi)

15.Fallacy of Appealing to Pity (Kekeliruan Karena Mengundang Belas Kasihan)

Ø C. Kekeliruan Karena Penggunaan Bahasa

1. Fallacy of Compotition (Kekeliruan Karena Komposisi)

2. Fallacy of Division (Kekeliruan dalam Pembagian

3. Fallacy of Accent (Kekeliruan Karena Tekanan)

4. Fallacy of Amphiboly (Kekeliruan Karena Amfiboli)

5. Fallacy of Equivocation (Kekeliruan Karena Menggunakan Kata dalam Beberapa Arti)

DAFTAR PUSTAKA

H:\LOGIKA DAN LITERATUR_ MODAL BERPIKIR KRITIS « Kajian Islam.mht

http://filsafat-misbah.blogspot.com/2007/10/kekeliruan-berpikir.html

Mundiri, Logika, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2003, Cet ke-8,



[1] H:\LOGIKA DAN LITERATUR_ MODAL BERPIKIR KRITIS « Kajian Islam.mht

[2] http://filsafat-misbah.blogspot.com/2007/10/kekeliruan-berpikir.html

[3] Mundiri, Logika, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2003), Cet ke-8, h. 211-224